Rabu, 05 Juni 2013

MEMBACA PIKIRAN PIERRE BOURDIEU



MEMBACA PIKIRAN PIERRE BOURDIEU
Judul asli: Pierre Bourdieu
Penulis: Richard Jenkins
Penerjemah: Nurhadi
Editor: Hadi Purwanto

Harga buku: Rp 50.000,-
Pemesanan : sms 08122742231/ pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/

Sinopsis
BISA jadi terdapat sedikit keraguan akan arti penting kontribusi Bourdieu dalam sosiologi dan antropologi sosial. Dengan meninggalnya Althusser, Barthes dan Foucault, melebihi figur lain semisal Bodon atau Touraine, dia tampil untuk menunjukkan nilai dan vitalitas yang terus berlanjut dalam tradisi intelektual ilmu sosial Prancis. Dengan membangun ruang politis dan teoretis di luar Marx, Weber dan Durkheim, strukturalisme dan interaksionisme, determinisme pesimistis dan keyakinan selebratoris dalam meningkatkan potensi kreatif praktis kehidupan manusia, dia muncul sebagai sumber heterodoks dan menarik bagi inspirasi teori sosial pada era 1990-an.
Terdapat sejumlah alasan yang lebih spesifik mengapa pengkajian karya Bourdieu begitu penting. Pertama, dia memberikan kontribusi utama dalam debat tentang hubungan antara struktur dan tindakan sebagai satu pertanyaan kunci bagi teori sosial yang muncul lagi pada akhir era 1970-an dan awal 1980-an. Kedua, dibandingkan dengan Anthony Giddens, misalnya, kontribusi tersebut secara konsisten telah dikerangkakan oleh kombinasi antara kerja empiris sistematis –apakah mendasarkan lagi pada etnografi atau pendekatan survei sosial– dengan teorisasi reflektif. Tarik-menarik antara kedua aspek karya Bourdieu inilah yang menjadikannya begitu menarik: ‘teori tanpa penelitian empiris adalah hampa, penelitian empiris tanpa teori adalah buta’.
Adapun alasan yang ketiga, mungkin sebagai konsekuensinya dari fakta bahwa Bourdieu telah menjadi seorang peneliti masalah sosial yang begitu aktif. Pertanyaan epistemologinya tentang inti kelayakan ilmu pengetahuan sosial dan syarat memungkinkan hal ini menjadi isu sentral dalam proyeknya. Hal-hal tersebut merupakan pertanyaan yang telah membuat banyak sosiolog dan antropolog –apakah mereka menyebut dirinya sebagai ‘teoretikus’ atau ‘peneliti’ –kehabisan akal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar