Rabu, 05 Juni 2013

Budaya dan Masyarakat



judul : Budaya dan Masyarakat
penulis : Kuntowijoyo
penerbit : tiara wacana

harga : Rp. 31.000

Pemesanan : sms 08122742231/ pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/

SINOPSIS

Pada uraian awal ini Kuntowijoyo akan membahas dan memusatkan perhatiannya pada proses simbolis. Yaitu pada kegiatan manusia dalam menciptakan makna yang merujuk pada realitas yang lain daripada pengalaman sehari-hari. Proses simbolis ini meliputi bidang-bidang agama,  filsafat, seni ilmu, sejarah, mitos, dan bahasa. Ada beberapa cara untuk mencari hubungan antara simbol dan masyarakat. Menheimen mencoba mencari hubungan antara suatu kelompok kepentingan tertentu dalam masyarakat dan pikiran serta kelompok kepentingan tertentu dalam masyarakat dan pikiran serta modus pikiran yang mendasari sosiologi pengetahuannya. Dengan melepaskan estetika Marxis dan beberapa catatan berikut, tulisan ini ingin meninjau perkembangan sejarah Indonesia dalam kaitanya dengan kreativitas simbolis.


Catatan itu adalah, pertama, kita harus meninggalkan konsepsi determinis yang secara tegar menghubungkan antara kondisi sosial dan superstruktural. Kondisi sosial ekonomi tidak secara langsung dikaitkan dengan superstruktural, melainkan melalui jaringan yang kompleks dari langkah-langkah antara.derajat otonomi dan ketergantungan produk-produk spiritual berbeda-beda tergantung dari kodratnya, sehingga, misalnya, otonomi hasil-hasil kesenian tentu lebih besar daripada otonomi cita-cita politik. Menurut Abell salah satu mata rantai yang menghubungkan antara kondisi ekonomi dan superstruktur budaya itu ialah psikologi. Kita harus sadar kompleksitas kejiwaan yang terlibat dalam pembentukan imajeri dan menghindari kecenderungan yang menyamakan tipe pernyataan budaya tertentu dengan mentalitas suatu kelas atau sistem ekonomi. Abell mengemukakan teorinya tentang dasar psiko-historik dari budaya pada suatu masa, yaitu bahwa suatu tipe imajeri merupakan penjelamaan dari ketegangan sosial dibawahnya.

Kedua, bahwa tulisan ini tidak semata-mata mengenai tradisi sosiologisme atau Marxisme, akan tetapi dari penggunaan konsep sejarah idealis tentang semangat zaman. Kita juga berpendapat bahwa dalam kurun sejarah tertentu masyarakat dari berbagai kepentingan sosial dapat saja mempunyai cita-cita dan cita-rasa keindahan yang sama, terutama tatkala kurun sejarah itu benar-benar merupaakn satuan yang  integral. Demikian misalnya, dalam masyarakat patrimonial raja dan petani dapat mempunyai cita-cita dan cita-rasa yang sama, karena mereka mempunyai cita-cita dan cita-rasa yang sama. Dengan kelonggaran-kelonggaran berpikir seperti inilah penulis ingin mendasari analisa mengenai dasar-dasar sosio-historik dari proses simbolis di Indonesia.

Sebuah istilah yang mengundang perdebatan adalah tentang hubungan antara agama dan seni dalam sistem budaya Islam di Jawa. Sangat penting kiranya untuk diketahui bagaimana unsur-unsur estetis hadir dalam sistem keagamaan dan sebaliknya, bagaiaman unsur-unsur agama hadir dalam kesenian Islam. Selanjutnya, kita akan membicarakan permasalahan seni Islam, pendekatan-pendekatannya dan di sana-sini juga asumsi-asumsi awal sebagai ilustrasi yang bersifat sementara.

Sedikit ilustarasi akan menjelaskan bagaimana perbedaan sikap agama-agama terhadap seni. Menurut Weber, agama orgiastik cenderung mengembangkan nyanyian dan musik, agama ritualistik cenderung kepada seni-seni piktorial, dan agama yang menganjurkan cinta akan menyukai perkembangan puisi dan musik. Demikian juga terjadi perbedaan antara Katolik dan Protestan. Para penganut Protestan melihat seni dalam Katolik sebagai kekanakan tetapi sebaliknya Katolik melihatnya sebagai sesuatu yang akrab dan menyenangkan. Protestanisme yang telah mengalami proses rasionalisasi itu telah meletakkan agama dan seni dalam suatu jarak tertentu dengan melihat seni lebih pada semangat daripada bentuk formal.

Dengan latar belakang Islam  kita ingin memandang elemen estetis didalam agama Islam itu. Yang pertama kita harus mengetahui pengertian ritual dalam Islam ada dua macam, yaitu wajib (harus) dan sunnah (dianjurkan). Diluar ketentuan yang sudah ada kedudukan teologi adalah bid’ah (baru). Keduua, dalam tulisan ini elemen estetis ritual yang dikmaksudkan ialah substansinya, bukan sekedar atributnya. Jadi misalkan keindahan lagu dalam shalat tidak termasuk sebagai elemen estetis dalam ritual tetapi hanya atribut. Menurut Iqbal dalam The Reconstruction of Religion Thought in Islam, kebanyakan gerakan sufi melarang penggunaan musik dalam peribadatan untuk menghindarkan pengalaman yang seluruhnya bersifat emosional. Sebab, Islam memilih pengalaman keagamaan yang natural dan mempunyai makna biologis yang sangat penting bagi pertumbuhan ego.

Seni sebagai gejala yang mempunyai kaitan dengan sistem kepercayaan, dapat pula dilihat dalam seni musik Jawa. Judith Becker menulis bahwa melodi musik Jawa sesuai dengan konsep waktu siklus dalam sistem pengetahuan Jawa. Satu siklus (gongan) dapat dibagi menjadi setengah oleh kenong, menjadi seperempat oleh kempul, seperdelapan oleh kethuk, seperenambelas oleh saron, dan sepertigapuluh dua oleh bonang barung. Ini sesuai dengan sistem kalender bulan yang disebut asta-wara, suatu lingkaran yang selalu kembali pada hitungan ke delapan.

Sehubungan dengan musik, kita ingat bagamana gamelan sekaten mengandung suatu ide. Pada hemat penulis, gamelan itu mempunyai suasana mistik. Rupanya gamelan yang menggunakan kesunyian sebagai bagian integral dari komposisinya, lebih menegaskan suasana fana bagi yang sedang menjalani suluk. Setiap gong terasa sebagai simbol bagi tercapainya  suatu tingkat (maqam) tertentu setelah orang beralih dari suasana zikir dan sunyi secara bergantian. Dugaan ini bisa dikuatkan dengan ritual yanh harus dikerjakan oleh para penabuhnya yang mirip dengan persiapan seorang salik. Melodi, ritme, harmoni, dan dinamik gamelan sekaten adalah perjalanan suci menuju Tuhan. Dalam hal ini kita mengalami kesulitan dalam menentukan mana yang ritual dan mana yang seni. Barangkali gamelan sekaten adalah sintesa yang berhasil antara agama dan seni.

Untuk menemukan hubungan antara Islam dan seni itu sendiri perlu adanya serangkaian penelitian dan pendekatan. Mempelajari seni Islam di Jawa dengan pendekatan interdisipliner, setidaknya menyangkut:
Sistematisasi
Pengkajian ini berusaha untuk meneliti tema, bentuk, dan gaya kesenian, representasional maupun yang diskursif.

Mencari Asal dan Evolusi (Pendekatan Genetik)
Pengkajian genetik dan evolusi berusaha menelusuri asal-usul sebuah bentuk kesenian dari segi pertumbuhannya.

Memahami Konteks Sosial Kesenian
Pada kajian konteks sosial kesenian dan sosiologi kesenian, mencoba menghubungkan kesenian dengan kesadaran kolektif, struktur sosial, dan fungsi kesenian dalam struktur itu; dengan singkat , kajian mengenai lingkungan sosial kesenian, kumpulan cerita pendek Djamil Suherman, Umi Kalsum, telah melukiskan masyarakat pesantren, kesadarannya dan pernyataan simbolisnya dengan sangat tepat.

Mobilitas dan Difusi
Kajian ini membahas mobilitas dan difusi kesenian, berusaha untuk meneliti perpindahan (migrasi) sebuah gejala seni secara horisontal dari daerah ke daerah, kota ke desa dan sebaliknya dan dari kelompok-kelompok seperti kelompok petani ke pegawai negeri, gejala seni tentu akan mengalami perubahan.

Pengkajian Tekstual
Pengkajian tekstual dapat menjadi sangat menarik apabila sebuah kesenian mengandung unsur-unsur teks. Dari teks kita dapat mengetahui pengalaman mental masyarakat juga sistem kepercayaan akan nampak dalam pengkajuan tekstual ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar