Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2016

Impian Pamanku



Judul : My Uncle’s Dream (Impian Pamanku)
Penulis: Fyodor Dostoevsky
Penerbit : Octopus
Kondisi : Baru

Harga buku: Rp.65.000
-
Pemesanan : sms 085878268031/ WA 08886824445 /pin BB: 7F9043D6/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline


Sinopsis

Novel ini menunjukkan kepiawaian Dostoevsky dalam mengangkat aspek psikologis kehidupan masyarakat Rusia di masa itu. Ia berhasil menggambarkan sosok Marya secara tegas; dominan, tangguh, banyak bicara, culas sekaligus ambisius. Ia juga menggambarkan kelemahan laki-laki sebagaimana yang terlihat dari tiga sosok rekaan Dostoevsky ; Sang Guru, Afanasy Matveich, dan Pavel Alexandrovich.

Jumat, 04 Maret 2016

LUKA dan Api Kehidupan



Judul : LUKA dan Api Kehidupan
Penulis: Salman Rushdie
Penerbit : Serambi
Kondisi : Segel

Harga buku: Rp. 39.000

Pemesanan : sms 085878268031/ WA 08886824445 /pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline


Sinopsis

Rasyid Khalifa, sang pendongeng legendaris, pada suatu malam tertidur lelap dan takpernah bangun lagi, seolah-olah dia berada dalam cengkeraman raksasa tidur. Demi membangunkan ayahnya dan menyelamatkannya dari sosok makhluk maut yang sedikit demi sedikit menyerap kehidupan sang ayah, Luka, bocah dua belas tahun, harus bertualang ke negeri dongeng dan mencuri api kehidupan.

Api kehidupan tersimpan di Pusat Dongeng, di puncak gunung Pengetahuan yang menjulang diatas danau Kebijaksanaan, dan dijaga sangat ketat oleh Aalim, Tiga Penguasa Negeri Dongeng, berserta jajaran Dewa berperilaku buruk dari berbagai mitologi dan dongeng. Tak pernah ada yang berhasil mencuri Api Kehidupandari mereka. Maka dimulailah petualangan dan pertarungan Luka dalam menghadapi rintangan demi rintangan, mengumpulkan nyawa, kehilangan nyawa, menaklukkan level demi level, selayaknya permainan. Namun, ini bukan sekedar permainan, melainkanpenentuan hidup dan matinya ayahnya.
Luka dan Api Kehidupan adalah kelanjutan dari kisah Harun dan Samudra Dongeng. Dalam kisah ini Salman Rushdie menggabungkan unsur-unsur fantasi, mitologi, permainan kata, dan simbolisme ke dalam jalinan kisah yang menarik, cerdas, seru, dan jenaka. Novel ini layak dibaca oleh siapa saja sebagai bacaan sastra yang bermutu sekaligus dongeng yang indah dan memperkaya hidup.

Senin, 18 Januari 2016

MANUSIA PEMBERONTAK



Judul : MANUSIA PEMBERONTAK
Penulis: Albert Camus
Penerbit : Jendela
Kondisi :  Baru Segel

Harga buku: Rp. 85.000

Pemesanan : sms 085878268031/ WA 08886824445 / pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline


Sinopsis

Camus, si pengarang The Outsider adalah filsuf yang mengenalkan filsafat absurditas. Absurdisme sendiri adalah paham atau aliran yang didasarkan pada kepercayaan bahwa manusia secara umum tidak berarti dan tidak masuk akal (absurd). Kesadaran para pengikut aliran itu terhadap tata tertib sering berbenturan dengan kepentingan masyarakat umum.
Novel sastra ini bercerita tentang seorang laki-laki yang rela mati demi kebenaran. Tokoh kita ini dikenal sebagai orang yang pendiam, baik dan mengasihi orang yang membutuhkan pertolongan. Awal cerita bermula dari kematian ibu sang tokoh yang dititipkan di panti wreda. Pada saat mengunjungi jenasah sebelum proses pemakaman, si tokoh tidak menunjukkan ekspresi seorang anak yang kehilangan Ibu (Parameter yang berlaku di masyarakat umum). Reaksi yang dimunculkan si tokoh mengundang gugatan dan pertanyaan.
Sehari setelah kematian Ibu, laki-laki ini pergi berenang dan bertemu dengan wanita yang kemudian menjadi kekasihnya. Dan mereka pergi nonton film komedi malam harinya.
Laki-laki ini juga berkenalan dengan tetangganya yang bernama Raymond. Raymond menghidupi dirinya dari para wanita. Raymond menyebutnya sebagai ‘Penjaga Gudang.’ Ada juga seorang tua dengan anjingnya.
Suatu saat Raymond bermasalah dengan seorang perempuan. Sang tokoh membantu Raymond. Raymond bebas namun kakak dan teman gadis ini tampaknya tak suka.
Pada suatu hari, Raymond mengajak tokoh dan kekasihnya berlibur ke pantai, di rumah sahabat Raymond. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan para lelaki teman wanita Raymond. Mereka sampai di rumah sahabat Raymond. Ketika Raymond, tokoh dan sahabatnya ini tengah berjalan-jalan di pantai, para lelaki musuh Raymond muncul. Pertikaian pertama menyebabkan luka di wajah sahabat Raymond. Perkelahian usai.
Menit berikutnya sang tokoh sedang menyusuri pantai ketika ia melihat salah satu musuhnya berbaring di pantai. Sang tokoh meneruskan berjalan tapi kemudian sebuah benda tajam menyentuh pelipisnya. Rasa asin dan bau darah menerpa penciumannya. Dalam siraman cahaya matahari yang menyilaukan dan luka yang dialiri bulir-bulir air berwarna merah sehingga mengaburkan pandangannya, sang tokoh mengeluarkan senapan yang dipinjamkan sahabat Raymond. Dilepaskannya tembakan sebanyak empat kali.
Singkat cerita, sang tokoh menjadi tawanan dalam penjara. Ia kemudian di hukum mati.
Tokoh kita ini dalam perenungannya tak habis mengerti mengapa bukti bersalah yang memberatkan hukumannya adalah berkaitan dengan sifat-sifat dalam dirinya. Para hakim, jaksa menggugat perilakunya yang tidak menangisi kematian Ibunya. Mereka beranggapan sang tokoh adalah monster yang harus dibasmi.
Reaksi sang tokoh yang biasa saja menanggapi hukuman juga menjadi hal yang mengherankan. Ditampiknya pendeta yang ingin bertemu untuk melakukan ritual sebelum eksekusi dijalankan, seperti pengakuan dosa dan menerima penyesalan (tobat) korban. Pendeta mengira sang tokoh dalam keputusasaan sehingga berperilaku seperti itu. Dan laki-laki itu menjelaskan bahwa ia tak sedang putus asa. “Aku cuma takut yang menurutku wajar,” kata laki-laki itu.
Sifat keras kepala laki-laki ini yang tak mau mengakui dosanya membuat pendeta jengkel. Tampak pada cukilan kalimat berikut ini.
“Kujelaskan bahwa keadilan itulah yang memvonisku hukuman mati. Pendeta bilang, hukuman itu tak menghapuskan dosaku sama sekali. Kubilang aku tak tahu apa dosaku. Aku hanya diputuskan bersalah. Aku bersalah dan harus membayarnya. Jadi, tak ada lagi yang bisa diminta dariku.”
Keyakinan sang tokoh begitu besar dan tampak pada paragraf ini. “Aku mungkin dungu tapi aku yakin atas diri sendiri, yakin akan semuanya, yakin atas hidupku dan kematian yang mendatangiku. Ya, itulah yang kumiliki. Tapi setidaknya itu kebenaran yang kupegang sebagaimana kebenaran itu memegangku. Aku telah hidup dengan cara tertentu, aku juga bisa hidup baik dengan cara lain. Telah kulakukan ini dan tak kulakukan itu. Aku tak melakukan satu hal, sebaliknya kulakukan yang lainnya. Lantas kenapa?”
“Tak ada, tak ada sama sekali yang berhak menangisinya. Aku juga merasa siap menjalani hidupku lagi. Seolah-olah ledakan besar kemarahan ini telah menyingkirkan semua sakitku, membunuh seluruh harapanku, kupandang ke atas ke gugusan tanda dan bintang di langit malam dan membiarkan diri terbuka untuk pertama kali terhadap pengabaian dunia yang ramah. Kutemukan sangat mirip diriku sendiri, faktanya begitu memiliki rasa persaudaraan, kusadari bahwa aku bahagia dan tetap bahagia.”
Bagi sang tokoh, hidup bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan hanya supaya jangan mati. Hidup akan berharga jika ia mempunyai makna. Karena itu walaupun sang tokoh tahu bahwa kematian membayanginya, ia memilih untuk menghadapinya dengan tegar.
“Dari kedalaman masa depanku, sepanjang seluruh hidupku yang absurd yang kujalani, aku merasakan tiupan samar-samar berhembus ke arahku selama bertahun-tahun yang masih akan berhembus.”

Sabtu, 28 November 2015

IBUNDA



Judul : IBUNDA

Penulis: Maxim Gorky

Penerbit : Kalyanamitra

Kondisi : Baru



Harga buku: Rp. 100.000



Pemesanan : sms 085878268031/ WA 08886824445 / pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline





Sinopsis



Ibunda merupakan sosok perempuan yang hidup di masa Revolusi Demokrati berlangsung di Rusia, sekitar awal abad 20. Ia hidup di tengah peluit pabrik yang menjerit-jerit diatas perkampungan buruh yang kumuh. Menikah dengan Michail Vlassov, laki-laki peminum berat, yang berlaku amat kejam terhadapnya. Keadaan berubah ketika suaminya meninggal dan Pavel, anaknya, menjadi aktivis buruh dan terlibat dalam gerakan politik pada waktu itu. Rumah ibunda dijadikan anaknya pusat membangun kesadaran dan tindakan revolusioner kawan-kawannya. Di tengah situasi itulah kesadaran ibundi terbuka dan menginsyafi siapa dirinya –yang selama ini tak pernah ia kenal kecuali ketakutan dan kesengsaraan. Keinsyafan itu membangun cinta kasihnya kepda semua anak-anak muda yang sedang berjuang merentas jalan kebenaran dan akal untuk menerangi dunia dengan surga baru. Cinta kasihnya Ibunda menyinari perasaan-perasaan tersulit anak-anak selama menghadapi represi kekuasaan Tsar. Ia dengarkan mereka bicara, ia sediakan makanan dan minuman, ia buatkan kaus kaki, sambil ia resapi pengertian “majikan dan tuan tanah yang menghisap darah orang kecil” dalam spirit religiusnya. Ketika Pavel dan anak-anak itu satu persatu ditangkap bahkan disiksa di depan matanya, Ibunda terjun ke kancah revolusi dengan peranannya sebagai pendistribusi pamplet ke kalangan buruh dan tani. Kemudian ia dituduh pencuri oleh seorang mata-mata, dan saat sedang ditangkap polisi militer dengan kekerasan, ia teriakkan “bahkan samudera pun tak kan mampu menenggelamkan kebenaran”.

Jumat, 28 Agustus 2015

ORANG-ORANG MALANG



Judul : ORANG-ORANG MALANG
Penulis: Fyodor Dostoevsky
Penerbit : OAK
Kondisi : Baru

Harga buku: Rp.50.000

Pemesanan : sms 085878268031/ WA 08886824445 / pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline


Sinopsis

Disajikan sebagai serangkaian salinan surat-menyurat yang rendah hati antara petugas Devushkin dan keluarga jauhnya, Si Varenka muda, Orang-Orang Malang membawa kita mengedepankan potret kelas bawah dari St Petersburg, masyarakat yang tinggal di pinggiran dalam kondisi yang paling mengerikan dan hina oleh kemiskinan. Sebagai keluarga Devushkin mencoba untuk membantu Varenka melepaskan penderitaannya dengan menjual apa pun yang dia bisa, dia kekurangan bahkan keadaan yang lebih membuat putus asa dan mencari pelarian di alkohol, menjadi tak berdaya sebagai objek cinta yang diambil darinya.