Tampilkan postingan dengan label Tan Malaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tan Malaka. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Mei 2017

POST MADILOG

Judul : POST MADILOG Kajian Filsafat Ilmu Mrmbangun Cara Berpikir Manusia Indonesia
Penulis: Ki H. Ashad Kusuma Djaya
Pengantar : DR. Suptodjo Tamtomo
Penerbit : Kreasi Wacana
Kondisi : Baru
Kertas : hvs
Ukuran : 14 x 20

Harga buku: Rp. 40.000

Pemesanan : sms 085878268031/ WA/line: 08886824445 / IG : @bukusosial


Sinopsis:

Dalam konteks sekarang, pengembangan ilmu pengetahuan bukan sekedar mengubah alam berpikir tradisional menuju alam berpikir modern, sebagaimana berlangsung pada masa kehidupan Tan Malaka. Salah satu akibat langsung dari globalisasi yang menimpa kehidupan sosial kita adalah munculnyatatanan sosial yang oleh Gidden disebut sebagai post-tradisional. Post-tradisional bukanlah tatanan yang tradisinya lenyap, tetapi tatanan yang tradisinya berubah status. Tradisi harus menjelaskan dirinya sendiri, menjadi ternuka untuk diselidiki dan diwacanakan.

Kajian Post-Madilog tidak sekedar melakukan lacak jejak sejarah keilmuan, namun menawarkan paradigma keilmuan berbasis pada pandangan hidup sistem yang selaras dengan dasar kehidupan kebangsaan kita. Kemandegan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak adanya benang merah antara pengembangan ilmu prngetahuan dengan dasar-dasar kehidupan berbangsa kita menunjukkan ada yang harus dibenahi dalam kajian filsafat ilmu kita selama ini. 

Rabu, 04 November 2015

CATATAN-CATATAN PERJUANGAN (1946-1948) TAN MALAKA



Judul : CATATAN-CATATAN PERJUANGAN (1946-1948) Tan Malaka
Penulis: TAN MALAKA
Penerbit : Sega Arsy
Kondisi : Baru

Harga buku: Rp. 45.000

Pemesanan : sms 085878268031/ WA 08886824445 / pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline
  
Sinopsis

Sampai akhir kehidupannya, Tan Malaka masih terus melahirnkan karya-karya penting bagi perjalanan bangsa Indonesia. Bahkan beberapa karangannya ditulis hanya beberapa waktu sebelum dia ditangkap oleh pasukan yang dengan biadab mengeksekusi serta mengakhiri jejak “Bapak Republik Indonesia” tersebut dari pentas perjuangan bangsa Indonesia untuk selama-lamanya.

Buku ini memuat catatan-catatan Tan Malaka pada periode akhir perjuanganya antara tahun 1946 sampai dengan 1948. Catatan-catatan perjuangan ini berupa analisis terhadap kejadian maupun komentar atas suatu permasalahan, yaitu :

1.      Situasi Politik dalam Negeri
2.      Proklamasi 17 Agustus : Isi dan Pelaksanaanya
3.      Dari Ir Soekarno sampai Presiden Soekarno
4.      Pandangan dan Langkah Rakyat Indonesia
5.      Penjelasan dan Maksimum Perjuangan
6.      Uraian Mendadak
7.      Berpisah Kita Berjuang, Bersama Kita Memukul

MASSA AKSI



Judul : MASSA AKSI
Penulis: TAN MALAKA
Penerbit : Sega Arsy
Kondisi : Baru

Harga buku: Rp. 35.000

Pemesanan : sms 085878268031/ WA 08886824445 /pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline


Sinopsis

Salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno ketika ia diadili oleh pemerintah kolonial di Bandung adalah karena ia menyimpan buku Massa Aksi, sebuah naskah yang memang dilarang oleh Belanda. Tetapi Soekarno justru mengutip buku tersebut untuk pledoinya yang terkenal, Indonesia Menggugat.

Pada masa-masa revolusi kemerdekaan, para pemuda revolusioner menjadikan buku Massa Aksi sebagai buku pegangan revolusi. “Ini kesempatan kita mempraktikkan Massa Aksi”, kata Sukarni. Mereka pun bergerak hingga membuahkan pertemuan besar di lapangan Ikada.

Tan Malaka menulis buku Massa Aksi ii sudah hampir satu abad yang lalu (1926), namun insprirasi yang ada didalamnya terus mengiringi perjuangan bangsa Indonesia, sepanjang sejarah bahkan sampai sekarang.  

Kamis, 29 Oktober 2015

SEMANGAT MUDA



Judul : SEMANGAT MUDA

Penulis: TAN MALAKA

Penerbit : Sega Arsy

Kondisi : Baru



Harga buku: Rp.35.000



Pemesanan : sms 085878268031/ WA 08886824445 /pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline





Sinopsis



Semangat Muda ditulis oleh Tan Malaka sebagai panduan gerakan rakyat yang dipimpin oleh kaum Buruh sebagai avangarde dari perjuangan menuju ke kemerdekaan. Dalam aksi melawan imperialisme kolonial Belanda diperlukan adanya konsep persatuan, persatuan yang mencakup semua golongan, semua lapisan masyarakat. Namun dalam prakteknya Tan Malaka menunjuk kaum buruh tampil sebagai pimpinan dengan alasan buruh lebih mudah terorganisir dan lebih murni pemikirannya.

Sabtu, 26 September 2015

TAN MALAKA & TUHAN

Judul : TAN MALAKA & TUHAN
Penulis : Ki H. Ashad Kusuma Djaya
Penerbit : Kreasi Wacana
Kondisi : Baru

Harga : Rp.40.000



Pemesanan : sms 085878268031/ WA 08886824445 / pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline
Sinopsis :

Dalam buku ini membahas bahwa cara Tan Malaka mencari Tuhan seperti yang dilakukan oleh nabi Ibrahim As, hanya saja cara pandang yang dikemukannya baru sampai tataran materialisme, belum sampai post-materialisme.Pemahamannya baru sampai bintang, bulan dan matahari dalam logika yang "lebih besar" itu yang dijadikan Tuhan. Konsepsi ketuhanan yang disodorkan Tan Malaka belum melihat tenggelamnya matahari sehingga belum bisa menemukan wisdom"Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada yang menciptakan langit dan bumi". Tan Malaka belum melihat bubarnya Uni Soviet dan berubahnya ekonomi China menjadi kapitalistik, sehingga ia percaya komunisme sebagai pilihan politiknya.

 Logika post-materialisme menjadi materi sekedar sebagai alat untuk mencapai hakikat  "yang menciptakannya" . Dalam politik ekonomi, logika post-materialisme itu menjadikan materi sebagai alat untuk menciptakan keadilan sebagai salah satu wujud dari sifat adil Tuhan. Dengan demikian post-materialisme tidak mengenal kelas yang ditentukan oleh penguasaan modal seperti pembagian kelas borjuis dan proletar. Namun yang dikenal dalam logika post-materialisme adalah golongan dzalim dan adil,

Sabtu, 24 Januari 2015

Analysis

 Judul : Analysis
Penulis : Alimin Prawirodirdjo
Penerbit : Octopus

Harga : Rp. 35.000

Pemesanan : sms 085878268031/ pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ twitter : @empuonline


Sinopsis


Alimin menulis  Analysis untuk menjawab pertanyaan Tan Malaka dalam Thesis. Menurut Alimin, sebagian besar dari tulisan Tan itu tidak aktual lagi untuk menjadi bahan atau material guna membikin orientasi keadaan batu.

Alimin menilai Tan sebagai orang yang menenggelamkan diri dalam pujian. Tan yang membersihkan diri dan menyalahkan gerakan PKI pada 1926 itu tidak salah karena ia tidak berbuat apa-apa. Orang yang tidak berbuat apa-apa tentu tidak mungkin membuat kesalahan. Itulah sebabnya PKI Tidak melakukam royeer-an karena Tan bukan lagi karena dia mendirikan Partai Republik Indonesia(PARI).


Alimin juga mengaku tidak pernah menuduh Tan sebagai Trotskys. Yang memeberikan julukan itu adalah sebuah surat kabar berbahasa Inggris yang dibaca Alimin dan Muso di Tanah Melayu.

Alih-alih Tan mrnyebut dirinya sebagai orang yang "bermandat" dari Komunis Internasional dan memepwrsialkan Putusan Prambanan, Alimin meminta dia memberikan penjelasan tentang twori revolusi. Dengan demikian dapat diketahui salah dan benarnya Revoluai 1926 itu. Faktanya, Revoluai 1926 mendorong munculnya revolusi-revolusi di tanah-tanah jajahan di Lautan Pasifik, seperti di Indo-China (1927) dan Burma (1926-1927). Kalaupun perkara 1926 itu masih sering digugat orang, maka Alimin, juga Muso menyatakan bertanggung jawab atas segalanya.

Senin, 15 Desember 2014

THESIS TAN MALAKA

 Judul : THESIS
Penulis : Tan Malaka
Penerbit : Octopus

Harga : Rp. 40.000

Pemesanan : sms 085878268031/ pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline

Sinopsis 


Melalui Thesis, Tan Malaka membatalkan putusan prambanan, sebuah rencana pemberontakan PKI pada tahun 1926. Di masa itu Tan Malaka adalah Ketua Komintern (Komunis Internasional) untuk eilayah Asia Timur .  Menurutnya, kondisi obyektif dan subyektif PKI belum memenuhi syarat revolusi. Tapi Alimin tidak menyerahkan keputusan pwmbatalan itu kepasa Sardjono, Musso dan kawan-kawannya  di Singapura.

Selepas putch yang gagal total pada 1926, para pemimpin PKI dibuang ke Boven Digul. Tan sendiri memisahkan diri dari PKI  lalu bersama Djamaluddin Tamim dan Subakat mendirikan PARI ( Partai Republik Indonesia) di Bangkok pada 1927. Sejak saat itulah Tan dituduh pengkhianat dan Trotskys.

Dalam buku ini Tan menjabarkan perbedaan pemikiran Trotsky dengan dirinya. Trotsky meyakini revolusi permanen (revolusi global) aebelum dibentuknya pemerintahan diktator proletar global. Sedangkan Tan sejalan dengan stalin bahwa pemerintahan komunis dapat dibemtuk di masing-masing negara secara otonom. Namun Tan juga bertentangan dengan Stalin dalam konsep absolutisme Rusia terhadap komintern.

Sabtu, 13 Desember 2014

ISLAM dalam MADILOG

 Judul : ISLAM dalam MADILOG
Penulis : TAN MALAKA
Penerbit : Sega Arsy

Harga : Rp. 35.000

Pemesanan : sms 085878268031/ pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline 

Sinopsis

Madilog merupakan manifestasi simbol kebebasan berfikir Tan Malaka. Ia bukan dogma yang biasanya harus ditelan begitu saja tanpa reserve. Menurut dia, justru kaum dogmatis yang cenderung mengkaji hafalan sebagai kaum bermental budak/ pasif yang sebenarnya. Di sinilai filsafat idealisme dan materialisme ala Barat dan konsep rantau disintesiskan Tan Malaka. Lembar  demi lembar ditulisnya dalam suasana kemiskinan, penderitaan, dan keaepian yang begitu ekstrim. Namun madilog lah yang menjadi puncak kualitas orisinal pemikiran terbaik Tan Malaka.

Jumat, 17 Oktober 2014

DARI PENJARA KE PENJARA (FULL SET 1-3)

Judul : DARI PENJARA KE PENJARA (buku 1-3)
Penulis : Tan Malaka
Penerbit : Teplok Press

Harga : Rp. 130.000



Pemesanan : sms 085878268031/ pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline


Sinopsis


Buku sejarah hidup Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia yang ditulis secara pribadi ketika beliau berada dalam Penjara di tanah airnya sendiri. Buku ini terdiri dari Tiga jilid, dimana jilid pertama ditulis oleh beliau ketika berada di Penjara Magelang. Hampir sebagian hidup Tan Malaka dihabiskannya di dalam penjara, akibat aktifitas politiknya yang anti kolonialisme.Namun pada kenyataannya, Tan Malaka tidak hanya dipenjarakan oleh Pemerintah kolonial, tapi juga oleh pemerintahan bangsanya sendiri yang berbeda posisi politik dengan Tan Malaka.

Jumat, 21 Februari 2014

Tan Malaka: Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Jilid 4



Judul : Tan Malaka: Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Jilid 4
Penulis: Harry A. Poeze
Penerbit : YOI
Kondisi : Baru

Harga buku: Rp 95.000

Pemesanan : sms 085878268031/ pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/
Sinopsis

Tan Malaka (1894-1949) pada tahun 1942 kembali ke Indonesia menggunakan nama samara sesudah 20 tahun mengembara. Pada masa Hindia Belanda, ia bekerja untuk Komintem (organisasi komunis revolusioner internasional) dan sesudah 1927 memimpin Partai Repoeblik Indonesia yang illegal dan antikolonial.

Ia tidak diberi peranan dalam proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia: Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Tetapi segera pula mereka tidak sejalan. Tan Malaka menghendaki sikap tak mau berdamai dengan Belanda yang ingin memulihkan kendali kekuasaan kolonialnya. Ia memilih jalan’perjuangan’ dan bukan jalan ‘diplomatis’. Ia mendirikan Persatoean Perdjoeangan yang dalam beberapa bulan menjadi alternative dahsyat terhadap pemerintahan moderat. Dalam konfrontasi di Parlemen ia kalah dan beberapa minggu kemudian Tan Malaka dan sejumlah pengikutnya ditangkap dan ditahan tanpa proses sama sekali – dari Maret 1946 sampai September 1948.

Jilid empat ini meliputi periode dramatis setelah pembebasan Tan Malaka sampai ia menghilang pada Februari 1948. Ia mulai dengan menghimpun pendudukannya yang telah tercerai-berai dan pada November 2948 mendirikan parta baru yang bernama Partai Murba. Akan tetapi pembentukan partai terganggu oleh Serangan Belanda Kedua pada Desember 1948. Saat itu Tan Malaka bermarkas di Kediri di bawah perlindungan bataliyon TNI yang dipimpin Sabarudin. Sabarudin memiliki reputasi buruk sebagai seorang panglima perang yang bengis dan kejam. Di Kediri, Tan Malaka mempersiapkan tentara dan rakyat melakukan perang gerilya terhadap Belanda dengan tujuan Indonesia sebagai Negara sosialis. Sesudah ikut bergerilya ke Gunung Wilis, dalam pamphlet yang ditulisnya tiap hari, ia menyerang Soekarno dan Hatta yang telah ditahan Belanda dan menuduh TNI di daerah yang bersikap putus asa. Bahkan ia memproklamir dirinya sebagai Presiden Indonesia. Serentak TNI beraksi. Markas besar Tan Malaka dan Sabarudin ditumpas. Setelah suatu rangkaian peristiwa yang luar biasa, Tan Malaka dieksekusi oleh satuan lokal TNI di desa Selopanggung, 21 Februari 1949. Kematiannya dirahasiakan.

Sesudah 58 tahun barulah terungkap lokasi, tanggal, dan pelakunya, yaitu dalam edisi asli buku ini yang berbahasa Belanda (2007). Kematian Tan Malaka tidak mengakhiri gagasan radikalnya. Sampai akhir 1949 para pendukungnya terlibat dalam aksi-aksi gerilya melawan TNI, dan pemimpin Republik. Namun dukungan rakyat ternyata tidak memadai sehingga kekalahan tidak dapat dihindari. Buku ini secara mendetail menggambarkan hal ikhwal perlawanan radikal ini.
Bab akhir mendokumentasikan pencarian lokasi kuburan Tan Malaka, penggalian jenazahnya pada tahun 2009, serta hasil autopsi.