Tampilkan postingan dengan label Buku Kiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Kiri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Mei 2015

MANIFESTO WACANA KIRI

Judul : MANIFESTO WACANA KIRI
Penulis: Nur Sayyid Santosa Kristeva
Penerbit : Pustaka Pelajar

Harga buku: Rp. 100.000

Pemesanan : sms 085878268031/ pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline


Sinopsis : 
Buku panduan pelatihan basis untuk gerakan sosial: Manifesto Wacana Kiri; Membentuk intelektual organik agitasi dan propaganda wacana kiri untuk kader inti ideologis ini mrrupakan sebuah akumulasi pergulatan intelektual penulis dengan buku, pemikiran, realitas sosial dan sebuah ambisi untuk mewujudkan amunisi pengetahuan. Eksponen intelektual yang genuine, tangguh tidak mudah patah, militan, ideologis dan mampu menjadikan dirinya sebagai mata rantai pengetahuan. 

Selasa, 31 Maret 2015

BEREBUT KIRI

Judul : BEREBUT KIRI Pergulatan Marxisme Awal di Indonesia 1912-1926
Penulis: Zainul Munasichin
Penerbit : Lkis
Kondisi : Baru

Harga buku: Rp. 63.000

Pemesanan : sms 085878268031/ pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline




Sinopsis

Dalam kajian sejarah Indonesia wacana “kiri” pernah menjadi sebuah kecenderungan utama. Ia seperti mengisyaratkan sebuah gugatan, sebuah upaya untuk berkata “tidak” pada satu rezim yang selalu berpihak kepada orang kuat, sebuah upaya menolak kooptasi modal dan membela mereka yang lemah. Namun, sejak rezim Orde Baru bertakhta, wacana kiri (atau kekiri-kirian) menjadi sesuatu yang haram untuk dijamah. Stigma yang dimunculkan; “kiri” itu penggangu, perusuh, dan ancaman bagi “stabilitas nasional”.

Stigma itu kini memang belum pudar benar dari bawah sadar masyarakat Indonesia. Tetapi, sejak Orde Baru lengser, kita bisa merasakan munculnya benih-benih kesadaran bahwa wacana kiri perlu diperkenalkan kembali. Terutama wacana-wacana sejarah menyangkut marxisme, sosialisme, atau komunisme, yang muncul pada awal abad ke-20 (1912-1926), sebagai respons terhadap kemerosotan-kemerosotan ekonomi akibat industrialisasi Hindia-Belanda.