Tampilkan postingan dengan label media komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label media komunikasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Januari 2016

KONFLIK MULTIKULTURAL Panduan Meliput bagi Jurnalis



Judul : KONFLIK MULTIKULTURAL Panduan Meliput bagi Jurnalis

Penulis: Nur Zain Hae, Rusdie Marpaung, Hawe Setiawan

Penerbit : Lembaga Studi Pers dan Pembangunan

Kondisi : Barus stok lama (tanpa segel)



Harga buku: Rp. 25.000



Pemesanan : sms 085878268031/ WA 08886824445 / pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline





Sinopsis



Jika koran dipandang sebagai sarana untuk membuat kekacauan, koran pun dapat digunakan sebagai srana untuk menciptakan ketertiban. Begitu kata Tuan Keuner, tokoh utama dalam Geschichten vom Herm  Keuner (Kumpulan Cerita tentang Tuan Keuner) karya sastrawan besar Jerman, Bertolt Brecht. Pernyataan Tuan Keuner sungguh mengena bagi kehidupan pers kita hari-hari ini. Ketika konflik multikultural meruyak, suku-suku berseteru, umat beragama bersengketa, para penduduk gang saling serang, pemberitaan pers tentangnya acapkali dituduh sebagai penghasut yang memperkalut kemelut. Padahal para pemberita dan media massa, cetak maupun elektronik, mestinya bisa memainkan peran terpuji, tidak mengobarkan api peperangan, tapi menyiramkan air perdamaian.



Pertanyaannya, bagaimana peran itu mesti dilakukan? Buku kecil ini berangkat dari pertanyaan seperti itu. Didalamnya terkandung niat untuk menawarkan beberapa bahan pertimbangan bagi para pemberita di Indonesia yang hendak meliput kehidupan sosial yang kalang kabut oleh rupa-rupa kemelut.

JALAN TENGAH MEMAHAMI IKLAN



Judul : JALAN TENGAH MEMAHAMI IKLAN  Antara Realitas, Representasi dan Simulasi

Penulis: Ratna Noviani

Pengantar : Heru Nugroho

Penerbit : Pustaka Pelajar

Kondisi : Buku Baru stok lama



Harga buku: Rp. 50.000



Pemesanan : sms 085878268031/ WA 08886824445 / pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline

TERJUAL





Sinopsis



Perkembangan ekonomi ditandai dengan fenomena gila belanja, perilaku konsumtif ini tumbuh melalui citraan-citraan dimana pemirsa akan terhipnotis dan dapat dipuaskan hasratnya lewat membeli komoditas yang diiklankan.



Bagi kaum penganut metode semiotika strukturalis, iklan jelas berakar dari realitas konkret. Adalah suatu yang mustahil diiklankan kalau tidak ada referensi sosialnya karena khalayak tidak akan mampu memahami iklan. Iklan yang tidak memiliki rujukan sosial pasti akan ditinggalkan oleh khalayak. Dalam konteks kajian ini iklan difahami sebagai teks dan teks adalah tanda. Maka teks-teks iklan tersebut dapat diinterpretasikan dengan tafsir dekonstruktif post-strukturalis.



Ratna Noviani mencoba untuk memberi pendekatan cara pembacaan iklan lewat kajiannya dengan mengambil beberapa sampel iklan yang pernah terpublikasi di berbagai media cetak dan audio.

Senin, 30 Maret 2015

Politik dan Grafiti



Judul : Politik dan Grafiti
Penulis: Rias Fitrian Indriyati
Penerbit : POLGOV UGM
Kondisi : Baru

Harga buku: Rp. 40.000

Pemesanan : sms 085878268031/ pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ empuonline@gmail.com/ twitter : @empuonline


Sinopsis

Belum banyak orang menyadari bahwa politik tidak saja berada dalam ranah lembaga-lembaga formal seperti negara, tapi juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, politik sebenarnya bersifat sangat cair, termasuk dalam hal strategi penyampaian aspirasi politik yang dapat dilakuka melalui media gambar. Perspektif daily politics ini digunakan untuk melacak fenomena grafiti di Yogyakarta. Grafiti sebenarnya merupakan media komunikasi politik sehari-hari yang berisi berbagai masalah sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Keberadaan grafiti pada tembok jalanan yang notabene merupakan ruang publik juga mengandung relasi kuasa antar berbagai aktor. Studi ini menemukan indikasi bah ternyata dunia grafiti telah “dimanfaatkan” oleh para pemilik modal, kelompok sosial dan budaya yang dominan, serta negara. Dengan kata lain, dunia grafiti telah mengalami “kromonisasi” atau penjinakan (domestication). Sebagai konsekuensinya, grafiti bukan sekadar media dan representasi realitas sehari-hari versi grafiti, tetapi juga telah menjadi media dari representasi kelompok-kelompok dominan.