
Judul :
Tan Malaka:
Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Jilid 4
Penulis: Harry A. Poeze
Penerbit : YOI
Kondisi : Baru
Harga buku: Rp 95.000
Pemesanan
: sms 085878268031/ pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/
Sinopsis
Tan Malaka (1894-1949) pada tahun 1942 kembali ke Indonesia
menggunakan nama samara sesudah 20 tahun mengembara. Pada masa Hindia Belanda,
ia bekerja untuk Komintem (organisasi komunis revolusioner internasional) dan
sesudah 1927 memimpin Partai Repoeblik Indonesia yang illegal dan antikolonial.
Ia tidak diberi peranan dalam proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia:
Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. Tetapi segera pula mereka tidak sejalan. Tan
Malaka menghendaki sikap tak mau berdamai dengan Belanda yang ingin memulihkan
kendali kekuasaan kolonialnya. Ia memilih jalan’perjuangan’ dan bukan jalan
‘diplomatis’. Ia mendirikan Persatoean Perdjoeangan yang dalam beberapa bulan
menjadi alternative dahsyat terhadap pemerintahan moderat. Dalam konfrontasi di
Parlemen ia kalah dan beberapa minggu kemudian Tan Malaka dan sejumlah
pengikutnya ditangkap dan ditahan tanpa proses sama sekali – dari Maret 1946
sampai September 1948.
Jilid empat ini meliputi periode dramatis setelah pembebasan Tan Malaka sampai
ia menghilang pada Februari 1948. Ia mulai dengan menghimpun pendudukannya yang
telah tercerai-berai dan pada November 2948 mendirikan parta baru yang bernama
Partai Murba. Akan tetapi pembentukan partai terganggu oleh Serangan Belanda
Kedua pada Desember 1948. Saat itu Tan Malaka bermarkas di Kediri di bawah
perlindungan bataliyon TNI yang dipimpin Sabarudin. Sabarudin memiliki reputasi
buruk sebagai seorang panglima perang yang bengis dan kejam. Di Kediri, Tan
Malaka mempersiapkan tentara dan rakyat melakukan perang gerilya terhadap
Belanda dengan tujuan Indonesia sebagai Negara sosialis. Sesudah ikut
bergerilya ke Gunung Wilis, dalam pamphlet yang ditulisnya tiap hari, ia
menyerang Soekarno dan Hatta yang telah ditahan Belanda dan menuduh TNI di
daerah yang bersikap putus asa. Bahkan ia memproklamir dirinya sebagai Presiden
Indonesia. Serentak TNI beraksi. Markas besar Tan Malaka dan Sabarudin
ditumpas. Setelah suatu rangkaian peristiwa yang luar biasa, Tan Malaka
dieksekusi oleh satuan lokal TNI di desa Selopanggung, 21 Februari 1949.
Kematiannya dirahasiakan.
Sesudah 58 tahun barulah terungkap lokasi, tanggal, dan
pelakunya, yaitu dalam edisi asli buku ini yang berbahasa Belanda (2007).
Kematian Tan Malaka tidak mengakhiri gagasan radikalnya. Sampai akhir 1949 para
pendukungnya terlibat dalam aksi-aksi gerilya melawan TNI, dan pemimpin
Republik. Namun dukungan rakyat ternyata tidak memadai sehingga kekalahan tidak
dapat dihindari. Buku ini secara mendetail menggambarkan hal ikhwal perlawanan
radikal ini.
Bab akhir mendokumentasikan pencarian lokasi kuburan Tan Malaka, penggalian
jenazahnya pada tahun 2009, serta hasil autopsi.