Sabtu, 15 Februari 2014

GOOD CAPITALISM BAD CAPITALISM



Judul : GOOD CAPITALISM BAD CAPITALISM
Kapitalisme Baik dan Kapitalisme Buruk dan Ekonomi Pertumbuhan dan Kemakmuran
Penulis: Carl J. Schramm, et.al
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Kondisi :Baru

Harga buku: Rp 120.000

Pemesanan : sms 085 878 26 80 31/ pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/

Sinopsis

Di banyak negara, kapitalisme selalu dicurigai. Dianggap menjadi biang kerok segala kerusakan (budaya, alam, dan bahkan politik). Ideologi ini juga yang dijadikan musuh bersama, oleh gerakan-gerakan anti utang, anti ketergantungan, dan bahkan anti globalisasi. Seolah-olah, kapitalisme hanya sebentuk wajah tunggal (monolitik). Padahal, sebagaimana ideologi-ideologi lain yang dikenal di kolong langit ini, kapitalisme sekalipun berwajah banyak. Terdapat sisi-sisi parsialitas yang berbeda, keunikan khas, dan adaptasi serta pengembangan. 

Dalam buku ini, misalnya, diperkenalkan istilah (dan juga metode) kapitalisme kewirausahaan. Kurang lebih berarti: sistem perekonomian yang bertumpu pada kehadiran inovasi —dan teknologi. Idealnya, kapitalisme jenis ini melibatkan sebanyak mungkin pengusaha-pengusaha cerdas, dan berperan sebagai inovator. Selebihnya, pengusaha pengekor (pedagang dan pebisnis musiman), dibutuhkan seperlunya saja. Mengapa inovasi? Karena dunia selalu bergerak dalam alur perubahan dan penuh ketidakpastian, maka hanya kaum inovator saja yang bisa memandu ke arah kemajuan.

Kaum intelektual kritis, boleh kecewa dengan buku ini. Karena tidak masuk ke seluk beluk paradigma dan wacana besar. Melainkan membeber contoh faktual serta trend yang sedang berlangsung. Tipologi kapitalisme yang diperkenalkan, juga semata-mata urusan bisnis dan dunia usaha —-tidak menjangkau seluruh hal. Jauh berbeda, misalnya, dengan corak lain, seperti Compasionate Capitalims (Kapitalisme berwajah manusiawi).

Optimisme

Kabar baik, sesungguhnya, terletak di penerbitan buku ini. Kita harus menatap dengan lebih elegan. Bahwa perdebatan teoritik dan ideologis, memang perlu. Tetapi tidak boleh menjadi wacana dominan. Saatnya beralih ke keyakinan mendalam. Bahwa kecurigaan berlebih terhadap para pengusaha, terhadap mentalitas entrepreneurship, seringkali berbau fobia. Lantaran faktanya, negeri ini terpuruk dalam kemelut yang itu-itu juga. 

Dalam buku ini, terpapar jelas, bahwa tumbuhnya kapitalisme yang baik tidak butuh faktor-faktor yang kaku, melainkan bisa dihadirkan. Pengalaman dari berbagai negara membuktikan, bahwa apapun kondisi sebuah negara, toh bisa sukses dengan pilihan “mengembang-biakkan” kewirausahaan. Sebaliknya, negara-negara yang memiliki anugerah berlimpah (modal alam, misalnya), juga bisa gagal dalam desain pertumbuhan ekonominya.

Bukan Serakah

Di Indonesia, tetap saja lahir trauma besar. Meletakkan anasir budaya, warisan lokal, dan “keragaman identitas”, dan sumber daya manusia, sebagai sesuatu yang akan dihabisi oleh kapitalimse (dan para pengusaha). Sebagaimana popularitas istilah yang salah kaprah, bahwa kapitalisme itu rakus! Sementara buku ini berusaha meyakinkan bahwa kapitalisme itu bagus. Apa buktinya?

Pertama, di mana-mana secara manusiawi orang membutuhkan kemakmuran, atau katakanlah taraf hidup yang lebih baik. Dan para pengusaha-lah yang bisa mewujudkan ini. Tanpa adanya wirausahawan, kata buku ini, maka setiap gagasan yang baik, ide-ide yang baik, dan inovasi yang baik, hanya akan menumpuk di dalam buku dan di dalam laboratorium. Sebab tak ada pihak yang sanggup “menjual”, sebaik para wirausahawan.

Kedua, bukan asas materialisme yang menggerakan pertumbuhan ekonomi, melainkan orang ingin hidup lebih berkualitas. Benar ada ancaman buruk dari pertumbuhan ekonomi (kapitalis), seperti polusi, kerusakan alam, defisit energi, dan dehumanisasi. Tetapi, dalam buku ini, terbukti bahwa dunia bergerak ke arah sebaliknya. Dengan kemampuan kapital di tangan, orang semakin memiliki kesempatan untuk mengikis semua dampak buruk ini.

Ketiga, optimalisasi sumber daya, hanya dimungkinkan ketika sistem ekonomi yang berlaku menghargai semua ini. Manusia tidak bisa dihela secara kaku, melainkan tumbuh dengan sukarela (dan keyakinan mencapai kemakmuran). Bukan oleh kerangkeng ideologi yang membatasi naluri orang untuk menjadi lebih makmur.

Kebutuhan

Memang tidak ada kontroversi dari buku ini. Karena hadir dengan analisis dingin, jauh dari provokasi. Namun satu hal jelas, bahwa untuk melipatgandakan jumlah dan mutu para pengusaha (kaum inovator itu), butuh sejumlah prasyarat. Antara lain adalah: penghargaan terhadap hak cipta, sistem hukum yang mendukung, pranata sosial yang stabil, dukungan negara, dan mengikis faktor-faktor penghambat (seperti korupsi, kolusi, dan monopoli).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar