Senin, 23 Juni 2014

MARHAEN dan WONG CILIK



Judul : MARHAEN dan WONG CILIK
            Membedah Wacana dan Praktik Nasionalisme bagi Rakyat Kecil dari PNI sampai PDI Perjuangan
Penulis: Retor A.W. Kaligis
Kata Pengantar : Joko Widodo (Jokowi)
Penerbit : Marjinkiri
Kondisi : Baru, Tersegel

Harga buku: Rp. 60.000

Pemesanan : sms 085878268031/ pin BB: 234FB00C/email : empu_online@yahoo.com/ 

Sinopsis

Tidak seperti sejarah nasionalisme bangsa-bangsa Eropa yang lebih didasarkan pada kesamaan bahasa atau suku, nasionalisme Indonesia lahir di atas fakta keanekaragaman suku, bahasa, budaya, dan keyakinan, yang dipersatukan oleh suatu rasa senasib sepenanggungan sebagai bangsa terjajah. Dengan demikian, maka proyek keadilan sosial dan pembebasan dari kemiskinan adalah bagian integral dari nasionalisme Indonesia. Tapi bagaimanakah partai-partai nasionalis memaknai upaya pembebasan rakyat kecil ini sepanjang sejarahnya?

Jika kita runut dari sejarah, maka kita harus mulai dari PNI. PNI memakai istilah “marhaen” sebagai upaya indentifikasi mereka pada rakyat kecil. Istilah “marhaen”  sendiri dipopulerkan oleh Soekarno sebagai reaksi atas kebijakan pemerintah Hindia Belanda menggencarkan liberalisasi ekonomi melalui pembukaan sektor perkebunan dan pertambangan bagi kapitalisme asing.

Sementara istilah “wong cilik” mulai dipopulerkan PDI pada akhir tahun 1980an sebagai reaksi atas kebijakan ekonimi orde baru yang melahirkan konglomerasi Indonesia, dan masih terus digunakan oleh PDI Perjuangan pasca Orde Baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar